Tak Hanya Atasi Kanker, Eka Hospital BSD Dukung Pemulihan Pasien melalui Rekonstruksi Payudara

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Pemulihan pasien kanker payudara tidak berhenti pada keberhasilan mengendalikan sel kanker. Kualitas hidup, kondisi psikologis, serta pemulihan bentuk tubuh setelah operasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengobatan. Menjawab kebutuhan tersebut, Eka Hospital BSD menghadirkan layanan penanganan kanker payudara yang mencakup terapi kanker stadium lanjut hingga rekonstruksi payudara sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Layanan ini didukung oleh Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B, Subsp. Onk. (K), M.Epid, MARS, Dokter Spesialis Bedah Onkologi, serta dr. Andi Azwadi Rais, Sp.B.P.R.E, Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik. Kedua bidang keahlian tersebut berperan dalam mendukung penanganan kanker, mulai dari pengendalian penyakit hingga pemulihan setelah tindakan operasi.
Sonar menjelaskan, kanker payudara stadium lanjut tidak selalu berarti pasien kehilangan harapan untuk memperoleh manfaat dari pengobatan. Perkembangan terapi modern telah membuka berbagai pilihan penanganan yang dapat disesuaikan dengan karakteristik kanker dan kondisi pasien.
“Pasien kanker payudara stadium lanjut kini memiliki berbagai pilihan terapi. Fokus pengobatan tidak hanya memperpanjang harapan hidup, tetapi juga mengendalikan penyebaran sel kanker, menjaga kualitas hidup pasien, serta mengurangi rasa nyeri,” ujar Sonar kepada wartawan pada Senin, (26/10).
Terapi kanker disesuaikan dengan kondisi pasien
Kanker payudara stadium lanjut umumnya mencakup stadium III dan stadium IV. Pada stadium III, kanker dapat melibatkan kulit, dinding dada, atau kelenjar getah bening di sekitarnya. Sementara pada stadium IV, sel kanker telah menyebar ke organ lain, seperti tulang, paru-paru, hati, atau otak.
Menurut Sonar, penanganan pada kedua stadium tersebut membutuhkan pertimbangan yang berbeda dibandingkan kanker payudara stadium awal. Dokter perlu mengevaluasi luas penyebaran kanker, karakteristik sel tumor, kondisi umum pasien, serta kemungkinan respons terhadap pengobatan.
Pemeriksaan biopsi dan patologi menjadi bagian penting dalam menentukan strategi terapi. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat mempertimbangkan sejumlah pilihan pengobatan, termasuk kemoterapi, terapi target, dan terapi hormonal.
Kemoterapi digunakan untuk melawan sel kanker di berbagai bagian tubuh. Adapun terapi target dapat diberikan pada jenis kanker dengan karakteristik molekuler tertentu, seperti HER2-positif. Sementara terapi hormonal menjadi salah satu pilihan bagi pasien dengan kanker yang memiliki reseptor hormon positif.
“Pemilihan terapi harus didasarkan pada karakteristik kanker masing-masing pasien. Tidak semua pasien membutuhkan jenis pengobatan yang sama, sehingga hasil pemeriksaan dan evaluasi dokter menjadi dasar penting dalam menentukan strategi yang paling sesuai,” jelas Sonar.
Selain terapi sistemik, operasi dan radioterapi juga dapat digunakan sesuai indikasi. Pada pasien kanker stadium lanjut, tindakan tersebut dapat membantu mengatasi masalah tertentu, seperti luka kanker yang sulit ditangani atau nyeri akibat penyebaran kanker ke tulang.
Dengan pendekatan individual, penanganan tidak hanya diarahkan untuk mengendalikan perkembangan kanker, tetapi juga mengurangi keluhan dan efek samping pengobatan agar pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Rekonstruksi payudara bantu pulihkan bentuk tubuh
Di sisi lain, pasien yang menjalani mastektomi atau pengangkatan seluruh payudara dapat menghadapi perubahan bentuk tubuh yang berdampak pada kepercayaan diri dan kondisi psikologis. Rekonstruksi payudara menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengatasi dampak tersebut.
Andi menjelaskan, rekonstruksi payudara merupakan prosedur bedah untuk membentuk kembali ukuran, bentuk, dan volume payudara setelah pengangkatan jaringan. Pada kondisi tertentu, prosedur ini juga dapat mencakup pembentukan puting dan areola agar hasilnya terlihat lebih alami.
“Rekonstruksi payudara bukan sekadar mengembalikan bentuk atau estetika. Prosedur ini juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan pasien secara menyeluruh, termasuk membantu mengatasi dampak psikologis akibat perubahan bentuk tubuh setelah operasi,” ujar Andi.
Rekonstruksi dapat dilakukan bersamaan dengan operasi pengangkatan payudara atau ditunda hingga waktu yang dinilai tepat. Penentuan waktu pelaksanaan mempertimbangkan kondisi pasien, kebutuhan terapi lanjutan, serta kemungkinan kemoterapi dan radioterapi.
Terdapat dua metode utama yang dapat dipertimbangkan, yakni penggunaan implan dan pemanfaatan jaringan tubuh sendiri atau autologous flap.
Rekonstruksi menggunakan implan dilakukan dengan memasukkan perangkat implan, umumnya berbahan silikon atau berisi larutan saline, untuk membentuk volume payudara. Metode ini relatif lebih sederhana pada pasien yang sesuai secara medis dan anatomi.
Sementara itu, metode autologous flap memanfaatkan jaringan kulit dan lemak, terkadang disertai otot, dari bagian tubuh pasien sendiri, seperti perut atau punggung. Jaringan tersebut kemudian dipindahkan ke area dada untuk membentuk payudara baru. Teknik ini dapat memberikan hasil yang terasa lebih alami, tetapi prosedurnya lebih kompleks dan meninggalkan bekas luka di area pengambilan jaringan.
“Setiap metode memiliki kelebihan dan pertimbangan tersendiri. Pemilihan teknik rekonstruksi harus disesuaikan dengan kondisi anatomi pasien, kebutuhan pengobatan kanker, serta hasil yang ingin dicapai. Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis menjadi langkah penting sebelum menentukan prosedur,” kata Andi.
Ia menambahkan, rekonstruksi payudara juga dapat dipertimbangkan untuk menangani kerusakan akibat cedera atau luka bakar serta kelainan bawaan tertentu, sesuai indikasi medis.
Kolaborasi spesialis dukung perawatan berkelanjutan
Penanganan kanker payudara membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan seluruh tahapan perawatan. Pengendalian kanker, pemulihan pascaoperasi, penanganan efek samping, dan dukungan terhadap kondisi psikologis pasien merupakan aspek yang saling berkaitan.
Melalui layanan spesialis bedah onkologi dan bedah plastik rekonstruksi dan estetik, Eka Hospital BSD mendukung pasien dalam memperoleh evaluasi medis dan pilihan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Koordinasi antardokter menjadi penting, terutama bagi pasien yang membutuhkan rekonstruksi sekaligus terapi tambahan setelah operasi. Dengan perencanaan yang tepat, waktu pelaksanaan rekonstruksi dapat disesuaikan agar tetap sejalan dengan prioritas pengobatan kanker.
Sonar dan Andi menekankan pentingnya konsultasi sejak awal agar pasien memahami pilihan terapi yang tersedia, manfaat dan risikonya, serta tahapan pemulihan yang mungkin dijalani.
Pendekatan tersebut menempatkan pasien tidak hanya sebagai penerima terapi untuk mengatasi penyakit, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan dukungan dalam mempertahankan kualitas hidup selama menjalani pengobatan hingga masa pemulihan. (Red/*)





