Ayo Less Waste Gelar Upgrading Environmentalist di Hutan Kota GBK, Ajak Peserta Mendengarkan Suara Alam

Mediakawasan.id, Jakarta – Ayo Less Waste (ALW) menyelenggarakan kegiatan Upgrading Environmentalist bertajuk “Reconnect to the Earth dan Council of All Beings” di Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 1 November 2026. Kegiatan ini diikuti peserta dari Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, hingga Bekasi untuk membangun kembali hubungan manusia dengan alam sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga seluruh kehidupan di bumi.
Kegiatan ini menghadirkan dua sesi utama, yaitu Council of All Beings dan Reconnect to the Earth. Melalui kedua sesi tersebut, peserta diajak untuk keluar sejenak dari rutinitas, merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan, serta memahami bahwa bumi bukan hanya rumah bagi manusia, melainkan juga bagi miliaran makhluk hidup lainnya.
Council of All Beings: Menghadirkan Suara Makhluk yang Selama Ini Tidak Terdengar
Salah satu kegiatan utama adalah Council of All Beings, sebuah praktik refleksi ekologis yang mengajak manusia mengambil perspektif makhluk hidup lain dan menyuarakan aspirasi mereka.
Praktik ini dikembangkan oleh Joanna Macy bersama John Seed pada 1985 di Australia dan menjadi bagian dari pendekatan The Work That Reconnects. Joanna Macy (1929–2025) merupakan seorang cendekiawan, penulis, dan aktivis lingkungan yang dikenal atas kontribusinya dalam pengembangan deep ecology serta pendekatan untuk membangun kembali hubungan manusia dengan bumi.
Dalam kegiatan ini, peserta diminta memilih makhluk hidup atau unsur alam yang ingin mereka wakili. Beragam pilihan muncul, mulai dari udang, kerang, rumput, gajah, orang utan, sungai, pantai, hingga ikan di laut.
Setiap peserta kemudian menyampaikan aspirasi dari sudut pandang makhluk yang mereka wakili. Mereka membayangkan bagaimana kehidupan makhluk tersebut ketika menghadapi berbagai persoalan lingkungan, seperti pencemaran, kerusakan habitat, eksploitasi sumber daya, dan aktivitas manusia yang mengancam keberlangsungan ekosistem.
Melalui proses ini, peserta diajak memahami bahwa sesuatu yang mungkin dianggap biasa oleh manusia dapat membawa dampak besar bagi makhluk lainnya. Sampah plastik yang dibuang sembarangan, misalnya, dapat menjadi ancaman bagi kehidupan ikan dan biota laut. Sementara itu, pembukaan hutan dapat menghilangkan habitat berbagai satwa liar.
Salah satu perspektif menarik hadir dari peserta yang memilih menjadi gajah. Gajah dikenal sebagai ecosystem engineer atau forest architect karena memiliki peran penting dalam membentuk dinamika ekosistem hutan.
Ketika memakan buah-buahan, gajah turut menyebarkan biji tumbuhan melalui kotorannya, bahkan ke wilayah yang jauh dari pohon induknya. Proses ini membantu regenerasi dan penyebaran tumbuhan. Aktivitas gajah ketika bergerak dan mencari makan juga dapat memengaruhi struktur vegetasi serta dinamika ekosistem hutan.
Peran tersebut menunjukkan bahwa setiap makhluk memiliki kontribusi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan. Gajah tidak hanya menjadi penghuni hutan, tetapi juga turut membentuk ekosistem yang menjadi tempat hidup berbagai spesies lainnya.
Manusia Bukan Satu-Satunya Makhluk yang Memiliki Kepentingan di Bumi
Melalui Council of All Beings, peserta diajak menyadari bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang memiliki kepentingan di bumi.
Lautan telah hadir sejak miliaran tahun lalu, jauh sebelum manusia modern muncul. Berbagai ekosistem dan makhluk hidup telah berkembang melalui proses panjang dan membentuk hubungan yang saling bergantung.
Manusia membutuhkan air, udara, tanah, tumbuhan, dan hewan untuk mempertahankan kehidupannya. Namun, makhluk-makhluk tersebut juga memiliki keberadaan dan peran ekologisnya sendiri, terlepas dari manfaat langsung yang dapat diberikan kepada manusia.
Kesadaran ini diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang, dari hubungan yang berorientasi pada eksploitasi menjadi hubungan yang dibangun atas dasar penghormatan, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap seluruh kehidupan.
Reconnect to the Earth: Kembali Terhubung dengan Alam melalui Grounding
Setelah sesi Council of All Beings, kegiatan dilanjutkan dengan sesi membumi atau grounding sebagai bagian dari proses Reconnect to the Earth.
Peserta diajak berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, termasuk memeluk pohon dan merasakan kedekatan dengan tumbuhan serta unsur alam lainnya.
Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan dekat dengan teknologi, manusia sering kali kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir dan merasakan lingkungan tempatnya hidup.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak memperlambat langkah, mengamati alam, dan menyadari kembali bahwa manusia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang jauh lebih besar.
Renungan Tentang Napas dan Pentingnya Udara Bersih
Salah satu refleksi penting dalam sesi membumi adalah perenungan mengenai napas dan udara yang setiap hari dihirup manusia.
Bernapas merupakan aktivitas yang berlangsung secara alami. Karena terjadi setiap saat, manusia terkadang lupa bahwa udara bersih merupakan kebutuhan mendasar yang sangat berharga.
Peserta diajak membayangkan kondisi saudara-saudara di berbagai wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan, termasuk di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Ketika asap menyelimuti permukiman, masyarakat harus menghadapi kondisi udara yang tidak sehat dan risiko gangguan kesehatan.
Udara yang dapat kita hirup dengan nyaman di satu tempat belum tentu dapat dinikmati oleh saudara-saudara kita di tempat lain.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa bersyukur atas udara bersih tidak cukup hanya dengan mengucapkannya. Rasa syukur juga perlu diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata untuk menjaga kualitas lingkungan.
Kepedulian terhadap Alam dalam Perspektif Islam
Kesadaran untuk menghormati seluruh kehidupan juga memiliki titik temu dengan nilai-nilai Islam.
Dalam QS. Al-An’am ayat 38, Allah SWT berfirman:
“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu.”
Ayat ini mengingatkan bahwa makhluk hidup selain manusia juga merupakan bagian dari ciptaan Allah.
Dalam QS. Al-Isra ayat 44, Allah menjelaskan bahwa langit, bumi, dan segala yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya, meskipun manusia tidak memahami tasbih mereka.
Sementara itu, QS. Al-A’raf ayat 56 mengingatkan manusia agar tidak berbuat kerusakan di bumi setelah Allah menciptakannya dengan baik.
Nilai-nilai tersebut memberikan landasan spiritual untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan alam. Manusia tidak semestinya memandang bumi semata-mata sebagai sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan sebagai amanah yang perlu dijaga.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kasih sayang terhadap makhluk hidup. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa berbuat baik kepada setiap makhluk bernyawa memiliki nilai pahala di sisi Allah.
Dengan demikian, kepedulian ekologis dapat menjadi bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman, terutama dalam menjaga keseimbangan alam, menghindari kerusakan, dan memperlakukan makhluk hidup dengan penuh kasih sayang.
Clean Up Bersama: Mengubah Kepedulian Menjadi Tindakan Nyata
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti kegiatan clean up bersama di area Hutan Kota Gelora Bung Karno.
Dari kegiatan tersebut, peserta berhasil mengumpulkan kurang lebih satu kantong plastik berukuran besar berisi sampah anorganik campuran yang ditemukan di sekitar lokasi.
Meskipun jumlahnya terlihat sederhana dibandingkan besarnya persoalan sampah perkotaan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
Kesadaran tentang dampak sampah terhadap sungai, laut, dan makhluk hidup perlu diikuti dengan perubahan perilaku, seperti mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah, serta memastikan sampah dikelola secara bertanggung jawab.
Membangun Kembali Hubungan Manusia dengan Bumi
Kegiatan Upgrading Environmentalist: Reconnect to the Earth dan Council of All Beings menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk melihat alam melalui perspektif yang lebih luas.
Melalui Council of All Beings, peserta diajak mendengarkan suara kehidupan yang selama ini sering terabaikan. Melalui grounding, peserta kembali merasakan kedekatan dengan alam dan mensyukuri hal-hal mendasar yang menopang kehidupan. Sementara itu, kegiatan clean up menjadi bentuk penerapan kepedulian melalui tindakan langsung.
Ayo Less Waste berharap kegiatan ini dapat memperkuat kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk terus mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dengan terhubung kembali dengan bumi (reconnect).
Pada akhirnya, merawat bumi bukan semata-mata tentang menjaga lingkungan demi kepentingan manusia. Ini juga tentang menghormati kehidupan yang berbagi rumah dengan kita.
Ada sungai yang membutuhkan air bersih, ikan yang membutuhkan laut yang sehat, orang utan yang membutuhkan hutan, gajah yang berperan dalam regenerasi ekosistem, serta tumbuhan yang membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Bumi adalah rumah bersama. Sudah semestinya kita belajar hidup berdampingan, saling menghormati, dan menjaga keberlangsungan seluruh kehidupan di dalamnya. (Red/rlls)





