Trending

Konstitusi Kita Kuat, Tapi Siapa yang Mengawalnya?

Redaksi
Redaksi24 Juni 2025 pukul 04.15 WIBDiperbarui 24 Juni 2025 pukul 04.16 WIB
2 menit baca
<p>Penulis: Hikmatul Ulaa, Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pamulang</p>
Iklan

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Di atas kertas, Indonesia memiliki benteng yang kokoh untuk melindungi hak-hak warganya. Hukum Tata Negara kita, dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai puncaknya, telah menyediakan seperangkat aturan main yang ideal untuk sebuah demokrasi modern. Bab XA dalam konstitusi kita secara gamblang menjabarkan daftar hak asasi manusia yang wajib dihormati negara. Tak hanya itu, kita juga punya Mahkamah Konstitusi (MK), sang penjaga konstitusi yang berwenang membatalkan undang-undang yang melanggar hak-hak tersebut. Putusan-putusannya bahkan seringkali progresif, menjadi harapan bagi penguatan HAM di negeri ini.

Namun, mengapa dalam realitas sehari-hari, benteng itu terasa begitu rapuh? Mengapa masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan keadilan, dan hak-haknya terasa mudah diabaikan?
Inilah paradoks demokrasi kita. Di satu sisi, kita punya kerangka hukum yang kuat. Di sisi lain, implementasinya terus digerogoti oleh berbagai penyakit kronis. Praktik korupsi, dominasi kekuasaan eksekutif, serta birokrasi yang belum sepenuhnya akuntabel menjadi hambatan struktural yang paling utama. Di saat yang sama, rendahnya pemahaman hukum dan terbatasnya akses terhadap keadilan membuat warga biasa seringkali tak berdaya memperjuangkan hak-haknya.

Jelas bahwa memiliki aturan saja tidak cukup. Perlindungan hak konstitusional tidak akan pernah terwujud sepenuhnya jika hanya diserahkan pada teks undang-undang dan lembaga negara semata. Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Jawabannya terletak pada dua pilar utama: reformasi dari dalam dan tekanan dari luar. Dari dalam, reformasi kelembagaan dan penguatan mekanisme checks and balances antar lembaga negara adalah harga mati. Kekuasaan harus diawasi secara ketat, dan lembaga peradilan harus terus ditingkatkan kapasitasnya.

Namun, yang tak kalah penting adalah tekanan dari luar, yaitu dari kita sebagai masyarakat. Partisipasi publik dalam setiap proses pengambilan keputusan harus diperluas. Di era digital, kita memiliki alat yang ampuh untuk mendorong transparansi dan mengawasi jalannya kekuasaan. Pemanfaatan e-government dan keterbukaan informasi publik dapat menjadi senjata kita untuk mencegah penyalahgunaan wewenang.

Pada akhirnya, konstitusi dan Mahkamah Konstitusi adalah alat. Seampuh apa pun alat tersebut, ia tidak akan berguna tanpa ada yang menggunakannya dengan benar dan mengawasinya dengan ketat. Menjaga hak-hak konstitusional adalah kerja kolektif. Ini bukan hanya tugas para hakim dan politisi, tetapi tugas kita semua sebagai warga negara yang menginginkan demokrasi yang substantif dan berkeadilan.

Iklan
Iklan
Tag:#UNPAM
RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jakarta – Anak muda Indonesia semakin akrab dengan AI, termasuk untuk mengeksplorasi ide dan minat kreatif. Tantangannya kini adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas. Menjawab kebutuhan ini, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand&nbsp;Trimenghadirkan Kelas Kr3asi, program pemberdayaan kreativitas bersama&nbsp;Adobe Express&nbsp;yang membekali pelajar Indonesia dengan keterampilan desain […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Membagi waktu antara sekolah dan latihan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang atlet. Namun, kesibukan tersebut tidak menyurutkan semangat Athar Aqila Rasya Nasution dalam mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026. Atlet muda Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang turun di cabang olahraga atletik nomor lompat jauh ini tengah menjalani […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan — Mogul Burger resmi membuka gerai di The Breeze BSD, Selasa (27/10/2026). Brand yang sebelumnya telah hadir di Jakarta dan Medan ini membawa menu burger berbahan daging sapi dan keju cheddar bagi pengunjung di kawasan BSD dan sekitarnya. Mogul Burger didirikan bersama oleh Joeana Simon dan Chris Angkasa. Kata “Mogul” sendiri merujuk […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Dr. Hj. Anis Byarwati, menilai polemik pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk pembalut perempuan perlu menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali sensitivitas sosial dalam kebijakan perpajakan. Menurut Anis, persoalan ini tidak cukup dilihat semata-mata dari aspek ketentuan dan administrasi perpajakan. Ada dimensi keadilan […]