Trending

Legislator PKS: Kinerja APBN Masih Belum Optimal

Redaksi
Redaksi22 November 2025 pukul 22.59 WIBDiperbarui 22 November 2025 pukul 22.59 WIB
2 menit baca
Iklan

Mediakawasan.id, Jakarta – Kementerian Keuangan baru saja melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) alami defisit Rp479,7 triliun di Oktober 2025, atau 2,02 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu pendapatan negara hingga akhir Oktober 2025 mencapai Rp2.113,3 triliun atau setara 73,7 persen terhadap outlook APBN 2025. Kemudian, realisasi belanja negara hingga Oktober 2025 mencapai Rp2.593 triliun atau 73,5 persen dari outlook 2025.

Anggota DPR RI Anis Byarwati memberikan apresiasi atas capaian tersebut dan beberapa catatan atas kinerja APBN 2025. Menurutnya Kemenkeu harus bekerja lebih keras untuk mengejar target pendapatan negara ditengah melemahnya daya beli masyarakat. “Jika dibandingkan dengan Oktober tahun 2024 lalu, pendapatan negara Oktober 2025 menurun sebesar 6,5 persen, karena tahun lalu sebesar 80,2 bisa dicapai, sementara sekarang hanya 73,7 persen,” katanya di Komplek Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta (22/11/25).

Menurut anggota Badan Anggaran DPR RI ini penurunan juga terjadi pada realisasi belanja negara di Oktober 2025 yang sebesar 73,5 persen dari outlook 2025, lebih rendah dibandingkan realisasi Oktober 2024 sebesar 74,3 persen. “Ada penurunan 0,8 persen dibandingkan periode Oktober 2024, padahal seharusnya semangat Menteri Keuangan untuk melakukan percepatan belanja, berdampak pada kenaikan realisasi belanja negara di Oktober, nyatanya data berkata lain,” ujarnya.

Anis mengingatkan Kemenkeu RI untuk lebih mendorong realisasi belanja lebih cepat. “Realisasi dan eksekusi yang lemah akan mereduksi fungsi stimulus yang seharusnya akan lebih optimal ketika dieksekusi cepat. Pemeritah harus bekerja lebih ekstra, karena ini menyangkut kondisi ekonomi, harapan, dan kesejahteraan rakyat secara luas,” paparnya.

Terkait defisit APBN hingga Oktober 2025, anggota Komisi XI DPR RI ini menyebut terjadi kenaikan defisit yang signifikan jika dibandingkan tahun lalu, periode Oktober 2024 sebesar 1,37 persen terhadap PDB sementara Oktober 2025 mencapai 2,02 persen. “Defisit anggaran sendiri terjadi akibat realisasi pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara, artinya Kemenkeu harus mendorong lebih ekstra agak pendapatan negara bisa optimal ditengah ketidakpastian global,” ujarnya.

Legislator PKS ini menambahkan defisit yang semakin mengecil merupakan amanat dari Presiden Prabowo yang disampaikan saat pemaparan RUU APBN dan Nota Keuangan di gedung DPR RI bulan Agustus lalu. “Sehingga menkeu harus mengupayakan amanat presiden tersebut seoptimal mungkin,” pungkasnya. (Red/*)

Iklan
Iklan
RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jakarta – Anak muda Indonesia semakin akrab dengan AI, termasuk untuk mengeksplorasi ide dan minat kreatif. Tantangannya kini adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas. Menjawab kebutuhan ini, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand Trimenghadirkan Kelas Kr3asi, program pemberdayaan kreativitas bersama Adobe Express yang membekali pelajar Indonesia dengan keterampilan desain […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Membagi waktu antara sekolah dan latihan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang atlet. Namun, kesibukan tersebut tidak menyurutkan semangat Athar Aqila Rasya Nasution dalam mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026. Atlet muda Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang turun di cabang olahraga atletik nomor lompat jauh ini tengah menjalani […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Tangerang Selatan — Mogul Burger resmi membuka gerai di The Breeze BSD, Selasa (27/10/2026). Brand yang sebelumnya telah hadir di Jakarta dan Medan ini membawa menu burger berbahan daging sapi dan keju cheddar bagi pengunjung di kawasan BSD dan sekitarnya. Mogul Burger didirikan bersama oleh Joeana Simon dan Chris Angkasa. Kata “Mogul” sendiri merujuk […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Dr. Hj. Anis Byarwati, menilai polemik pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk pembalut perempuan perlu menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali sensitivitas sosial dalam kebijakan perpajakan. Menurut Anis, persoalan ini tidak cukup dilihat semata-mata dari aspek ketentuan dan administrasi perpajakan. Ada dimensi keadilan […]