Nyeri Panggul Berulang Jangan Diabaikan, Brawijaya Hospital Hadirkan Kolaborasi Spesialis Tangani Varises Rahim

Mediakawasan.id, Jakarta – Nyeri panggul yang berulang dan berlangsung lama pada perempuan tidak selalu disebabkan oleh gangguan organ reproduksi. Keluhan tersebut juga dapat berkaitan dengan varises rahim atau pelvic congestion syndrome (PCS), yaitu kondisi pelebaran pembuluh darah vena di area panggul yang dapat menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan dalam aktivitas sehari-hari.
Untuk membantu pasien mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat, Brawijaya Hospital menghadirkan pelayanan komprehensif melalui kolaborasi dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular. Pendekatan lintas spesialis ini ditujukan untuk menelusuri penyebab nyeri panggul, mengevaluasi kemungkinan gangguan pembuluh darah, serta menentukan terapi berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Brawijaya Antasari, dr. Agatha Pradana, M.Si., Sp.OG, menjelaskan bahwa varises rahim perlu dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan penyebab ketika perempuan mengalami nyeri berulang di perut bagian bawah tanpa penyebab yang jelas.
“Pada tahap awal, keluhan tersebut sering dianggap sebagai gangguan ringan. Pasien mungkin mengira rasa tidak nyaman itu disebabkan oleh masalah pencernaan, kelelahan, atau kondisi lain yang tidak berbahaya. Ketika rasa sakit kembali muncul, pasien cenderung mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa mengetahui penyebab utamanya,” ujar dr. Agatha pada media gathering yang digelar Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, nyeri panggul kronis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi sehingga pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh. Keluhan yang terus berulang sebaiknya tidak hanya diatasi dengan obat pereda nyeri, tetapi juga ditelusuri penyebabnya agar penanganan dapat diberikan secara tepat.
Varises rahim atau PCS terjadi ketika pembuluh vena di sekitar organ reproduksi dan panggul mengalami pelebaran yang dapat berkaitan dengan gangguan aliran darah. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri tumpul, rasa berat, atau pegal di perut bagian bawah. Pada sebagian pasien, keluhan memburuk setelah berdiri atau duduk terlalu lama, saat melakukan aktivitas tertentu, maupun ketika atau setelah berhubungan seksual.
Meski demikian, gejala tersebut tidak secara otomatis menunjukkan varises rahim. Endometriosis, adenomiosis, kista ovarium, miom, infeksi, serta gangguan saluran kemih dan pencernaan juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk membedakan kemungkinan penyebab tersebut.
Kolaborasi ginekologi dan vaskular untuk memastikan diagnosis
Dalam penanganan nyeri panggul, dokter spesialis obstetri dan ginekologi berperan mengevaluasi organ reproduksi serta mengidentifikasi kemungkinan gangguan ginekologis. Sementara itu, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular membantu menilai kondisi pembuluh darah, termasuk pelebaran vena dan gangguan aliran darah di area panggul.
Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular RS Brawijaya Saharjo, dr. William Makdinata, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FIATCVS, FICS, menjelaskan bahwa varises tidak hanya ditemukan pada tungkai, tetapi juga dapat terjadi di sekitar organ reproduksi perempuan.
Pembuluh vena berfungsi mengembalikan darah dari jaringan tubuh menuju jantung. Katup di dalam pembuluh membantu menjaga agar darah mengalir ke arah yang semestinya. Apabila katup tidak berfungsi dengan baik atau aliran darah mengalami hambatan, darah dapat terkumpul dan meningkatkan tekanan pada vena sehingga pembuluh melebar.
Pada sebagian pasien, gangguan vena panggul juga dapat berkaitan dengan kelainan anatomi atau penyempitan pembuluh darah. Salah satu kondisi yang perlu dievaluasi adalah nutcracker syndrome, yakni penekanan pada pembuluh vena tertentu, terutama vena ginjal kiri, yang dapat mengganggu aliran darah.
Menurut dr. William, penyebab gangguan vena panggul tidak selalu sama sehingga pemeriksaan harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pelebaran pembuluh darah yang terlihat pada pemeriksaan pencitraan pun belum tentu menjadi penyebab utama nyeri.
Oleh karena itu, penegakan diagnosis perlu mempertimbangkan riwayat keluhan, hasil pemeriksaan fisik, serta temuan pencitraan. Kolaborasi antardokter membantu menghubungkan berbagai hasil evaluasi tersebut sebelum menentukan rencana penanganan.
Pemeriksaan disesuaikan dengan gejala pasien
Proses pemeriksaan diawali dengan penggalian riwayat keluhan, antara lain lokasi dan durasi nyeri, frekuensi kemunculan, kaitannya dengan menstruasi, aktivitas fisik, hubungan seksual, serta riwayat kehamilan dan persalinan.
Dokter kemudian menentukan pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan. Ultrasonografi atau USG dapat digunakan untuk mengevaluasi organ reproduksi dan, dengan teknik yang sesuai, menilai pembuluh darah panggul serta arah aliran darah.
Pada kasus tertentu, CT scan, MRI, atau pemeriksaan vena menggunakan zat kontras dapat dipertimbangkan untuk memperoleh gambaran anatomi dan aliran darah yang lebih terperinci. Tidak semua pasien membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan gejala, dugaan penyebab, hasil pemeriksaan awal, dan kemungkinan perlunya tindakan lanjutan.
Dr. Agatha menjelaskan, sebagian pasien dengan nyeri perut bagian bawah awalnya berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam untuk menelusuri kemungkinan gangguan pencernaan. Pasien lainnya mendatangi dokter urologi karena menduga keluhan berkaitan dengan saluran kemih.
Apabila penyebabnya belum ditemukan, evaluasi lanjutan perlu dilakukan berdasarkan pola gejala yang dialami. Perempuan yang mengalami nyeri panggul berulang, terutama ketika keluhan berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Pendekatan ini penting untuk membedakan PCS dari penyakit lain yang memiliki gejala serupa sekaligus menghindari pemeriksaan maupun tindakan yang tidak diperlukan.
Pilihan terapi tidak selalu membutuhkan operasi besar
Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan varises rahim ditentukan berdasarkan penyebab gangguan, tingkat keparahan gejala, kondisi kesehatan, dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.
Dr. Agatha menegaskan bahwa varises rahim tidak selalu membutuhkan operasi besar. Pada pasien tertentu, penanganan konservatif, termasuk pemberian obat untuk membantu mengendalikan gejala, dapat dipertimbangkan sesuai hasil evaluasi dokter.
Apabila keluhan menetap atau ditemukan kelainan pembuluh darah yang memerlukan tindakan, prosedur intervensi minimal invasif dapat menjadi salah satu pilihan. Pembedahan juga dapat dipertimbangkan apabila terdapat indikasi medis yang jelas atau kondisi pasien tidak dapat ditangani secara memadai dengan pendekatan lain.
Salah satu prosedur yang dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu adalah embolisasi melalui kateterisasi. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan kateter berukuran kecil melalui pembuluh darah untuk mencapai bagian yang mengalami kelainan. Selanjutnya, bahan atau perangkat medis khusus digunakan untuk menutup pembuluh yang menjadi sumber aliran balik abnormal.
Tindakan tersebut bertujuan mengurangi aliran darah yang tidak semestinya sehingga tekanan pada pembuluh vena yang bermasalah diharapkan menurun dan gejala pasien berpotensi membaik.
Namun, embolisasi tidak dapat diterapkan kepada semua pasien. Apabila keluhan berkaitan dengan penekanan atau penyempitan pembuluh darah, dokter perlu mengevaluasi apakah diperlukan pendekatan lain. Begitu pula jika ditemukan penyakit pada organ reproduksi yang membutuhkan terapi berbeda, termasuk laparoskopi atau pembedahan sesuai indikasi.
Menurut dr. William, pemilihan prosedur harus didasarkan pada hasil evaluasi terhadap sumber masalah dan anatomi pembuluh darah pasien. Setiap tindakan juga memerlukan pertimbangan manfaat, risiko, serta pemantauan sebelum dan setelah prosedur.
Melalui kolaborasi lintas spesialis, Brawijaya Hospital mengedepankan penanganan berdasarkan kondisi pasien secara menyeluruh, bukan semata-mata berdasarkan temuan pelebaran pembuluh darah.
Fungsi reproduksi dan kualitas hidup tetap menjadi perhatian
Selain mengatasi nyeri, penanganan varises rahim juga perlu mempertimbangkan kualitas hidup dan rencana reproduksi pasien. Nyeri saat atau setelah berhubungan seksual, misalnya, dapat memengaruhi kenyamanan, hubungan pasangan, dan kondisi psikologis apabila berlangsung berulang.
Dr. Agatha menjelaskan bahwa keluhan tersebut perlu disampaikan kepada dokter karena dapat membantu proses evaluasi dan penentuan pemeriksaan lanjutan.
Meski demikian, varises rahim tidak serta-merta menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan. Kesuburan dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kualitas sel telur dan sperma, ovulasi, kondisi rahim, saluran tuba, serta kesehatan secara keseluruhan.
Pasien yang mengalami kesulitan memperoleh kehamilan tetap perlu menjalani pemeriksaan kesuburan secara menyeluruh. Gangguan pembuluh darah panggul dapat dievaluasi apabila gejala dan temuan medis mengarah pada kondisi tersebut.
Dalam merencanakan terapi, dokter juga perlu mempertimbangkan keinginan pasien untuk mempertahankan fungsi organ reproduksi. Bagi perempuan yang masih ingin hamil, pilihan penanganan perlu didiskusikan berdasarkan kondisi medis, manfaat, risiko, dan kemungkinan dampaknya terhadap fungsi reproduksi.
Keputusan pengobatan dilakukan melalui pembahasan antara dokter dan pasien agar setiap pilihan terapi dapat dipahami dengan baik. Pendekatan ini membantu pasien berpartisipasi dalam menentukan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa varises rahim berbeda dengan tumor rahim. Varises berkaitan dengan pelebaran pembuluh vena dan gangguan aliran darah, sedangkan tumor merupakan pertumbuhan jaringan yang tidak normal. Keduanya memiliki mekanisme, pemeriksaan, dan penanganan yang berbeda.
Kenali gejala dan jangan menunda pemeriksaan
Pemahaman terhadap pola gejala dapat membantu pasien memberikan informasi yang lebih lengkap saat berkonsultasi. Perempuan yang mengalami nyeri panggul berulang disarankan mencatat waktu kemunculan nyeri, durasi, tingkat keparahan, serta kaitannya dengan menstruasi atau aktivitas tertentu.
Menjaga aktivitas fisik, menyelingi pekerjaan dengan perubahan posisi, serta menghindari duduk atau berdiri terlalu lama dapat mendukung kesehatan secara umum. Namun, kebiasaan tersebut bukan jaminan untuk mencegah varises rahim karena gangguan vena dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk anatomi pembuluh darah, fungsi katup vena, riwayat kehamilan, dan faktor hormonal.
Pasien juga tidak disarankan terus mengandalkan obat pereda nyeri tanpa mengevaluasi penyebab keluhan yang berulang. Apabila nyeri berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, semakin sering muncul, atau mengganggu pekerjaan, tidur, aktivitas, dan hubungan seksual, pemeriksaan medis perlu dijadwalkan.
Sementara itu, nyeri perut atau panggul yang mendadak dan sangat berat, pingsan, perdarahan banyak, demam tinggi disertai nyeri, maupun nyeri dengan kemungkinan kehamilan memerlukan pertolongan medis segera karena dapat menandakan kondisi serius.
Melalui layanan yang mengintegrasikan evaluasi ginekologi, pemeriksaan vaskular, pemeriksaan penunjang, dan pemilihan terapi sesuai indikasi, Brawijaya Hospital berupaya membantu pasien memperoleh penanganan yang terarah dan menyeluruh.
Kolaborasi dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular menjadi bagian penting dalam memastikan sumber keluhan dievaluasi secara tepat. Dengan demikian, pilihan pengobatan dapat dipertimbangkan secara cermat dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasien, termasuk fungsi reproduksi dan kualitas hidup.
“Pasien bisa mendatangi Rumah Sakit Brawijaya untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” tutup dr. William. (Red/*)





